Uji Kompetensi SMK
Latar Belakang
Penyelenggaraan pendidikan kejuruan, saat ini memasuki fase penting, yaitu fase lulusan pendidikan kejuruan akan dipertaruhkan kesiapannya dalam percaturan tenaga kerja di wilayah regional Asia, baik dalam konteks Asean Free Trade Association (AFTA) maupun Asean Free Labor Association (AFLA). Untuk ini upaya yang harus dilakukan adalah melakukan penataan dan pembenahan semaksimal mungkin dalam sektor pendidikan kejuruan, baik penataan dalam pola rekrutmen, pengembangan program pendidikan dan pelatihan atau kurikulum, inovasi proses pendidikan dan pelatihan, pengembangan evaluasi serta sertifikasi (HAR Tilaar, dalam Ace Suryadi).
Ketatnya persaingan dalam dunia kerja menuntut adanya kwalitas sumber daya manusia yang memadai sesuai dengan standar kompetensi yang dimilikili. Sementara itu, jumlah lulusan baik tingkat pendidikan tinggi maupun pendidikan menengah kejuruan terus meningkat. Misalnya saja di jawa barat, baru sekitar 15% lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jawa Barat yang dapat diserap dunia kerja setiap tahunnya. Demikian diungkapkan Ketua Forum Komunikasi Bursa Kerja Khusus (BKK) Jawa Barat, Rusly Z.A. Nasution ketika ditemui di Universitas Langlangbuana, Rabu (10/9).
Hal itu, menurut Rusly, disebabkan karena masih banyak SMK di Jawa Barat yang belum cukup memiliki kemampuan untuk menyiasati kebutuhan pasar, terutama terhadap lulusan yang dibutuhkan dunia kerja. "Seharusnya, SMK lebih membuat jaringan dengan perusahaan, memahami apa yang mereka butuhkan, baru kemudian membuat kurikulum pembelajaran," kata Rusly.
Sementara itu, khususnya di DKI Jakarta, Gubernur DKI Jakarta mengingatkan kepada jajaran Dinas Pendidikan Provinsi DKI JAkarta agar memacu kualitas pendidikan khususnya di bidang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terkait ketatnya persaingan lulusan dengan para lulusan-lulusan luar negeri. Saat ini tanpa keterampilan sulit mencari kerja. Yang dibutuhkan saat ini tenaga terampil. Karen aitu, saya berharap agar para lulusan SMK benar-benar terampil dibidangnya, sebab jika tidak akan diisi tenaga asing dari bangsa yang punya akses lebih. Ia berharap agar lulusan SMK memiliki kualitas bagus dan mampu bersaing ketika mendapatkan lapangan kerja baik di dalam maupun di luyar negeri. Untuk itu kami sudah punya tim untuk berupaya meningkatkan lulusan SMK tersebut agar tepat dan siswa memiliki sertifikasi internasional.
Isu penting dalam konteks ini adalah seberapa besar penyelenggaraan pendidikan kejuruan (SMK) relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama kebutuhan tenaga kerja, dunia usaha maupun industri. Fakta di lapangan mengindikasikan keadaan bahwa penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kejuruan berjalan dengan programnya sendiri, di sisi lain dunia kerja/industri dan asosiasi profesi sering mengeluh bahwa kualitas tenaga (lulusan) belum memenuhi tuntutan keahlian (kompetensi) yang diharapkan. Gejala “mismatch” seperti ini pada akhirnya melahirkan lulusan “underqualified”.
Penyerapan Dunia Industri terhadap Lulusan SMK
Secara umum terbukti bahwa Produktivitas seseorang dikarenakan dimilikinya keterampilan teknis yang diperoleh dari pendidikan. Oleh karena itu salah satu tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan adalah mengembangkan keterampilan hidup, berbasis kompetensi, pendidikan life skill dan broad based education yang dikembangkan.
Pemerintah terus mendorong minat lulusan SLTP untuk melanjutkan studi di sekolah menengah kejuruan (SMK) namun sejauh ini daya serap lapangan kerja terhadap lulusan SMK masih relatif rendah. Idealnya secara nasional lulusan SMK yang bisa langsung memasuki dunia kerja sekitar 80-85%, sedangkan selama ini yang terserap baru 61%. Padatahun 2006 lulusan SMK di Indonesia mencapai 628.285 orang, sedangkan proyeksi penyerapan atau kebutuhan tenaga kerja lulusan SMK tahun 2007 hanya 385.986 orang atau sekitar 61,43%. "Jumlah ini belum ideal, harus diupayakan peningkatan daya serap untuk memasuki lapangan kerja maupun menciptakan peluang kerja,"daya serap ideal lulusan SMK seharusnya mencapai 80-85%, sedangkan sekitar 15-20% lulusan SMK lainnya. Kecenderungan daya serap lapangan kerja menurut program keahlian sejak tahun 2000 hingga 2007 berubah-ubah, menyesuaikan dengan kondisi lapangan kerja pada waktu tertentu. Pada tahun 2000, misalnya, lulusan Jurusan Teknik Elektronika daya serapnya 87% namun melorot menjadi 50,5% pada 2006 sebelum akhirnya sedikit naik menjadi 62%. Daya serap lulusan Jurusan Teknik Mesin juga mengalami nasib sama, dari 84,86% pada tahun 2000 melorot daya serapnya pada tahun 2007 tinggal 76,52%. Daya serap tinggi ditunjukkan lulusan Jurusan Teknik Perkapalan, yang mencapai 94,69%. Ia memperkirakan, daya serap lulusan Jurusan Teknologi Informasi dan Komunikasi masih cukup tinggi. Kebutuhan SDM di bidang teknologi komunikasi dan informasi (ICT) di berbagai jenjang, mulai dari menengah, ahli, hingga profesional (Samsudi,2007) Mengutip data Aizirman Djusan, kebutuhan tenaga ICT pada tahun 2008 diperkirakan mencapai 32,6 juta orang, sedangkan tenaga ICT yang tersedia hanya 19,8 juta atau baru terisi 61%.
Mencermati kebutuhan pasar / industri ?
Syllabus kurikulum TIK Jurusan Teknik komputer dan jaringan secara garis besar terdiri mengarahkan lulusannya menjadi operator komputer, techical support sampai dengan sistem administrasi suatu jaringan. Namum sejauh ini, lulusan SMK TKJ lebih banyak yang menjadi operator / teknisi untuk merakit komputer sementara sistem adminitrasi jaringan masih sangat jarang. Namum sejauh ini belum adanya standar baku kurikulum pengajaran di sekolah yang mampu menciptakan dan mengembangkan kemandirian SDM yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja ditambah lagi sampai saat ini masih rendahnya kualitas SDM. Akibatnya lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) belum siap masuk ke pasar kerja," kata Ketua Kadin Sumut Irfan Mutyara diwakili T F Simbolon pada pembukaan LKS-SMK Tingkat Provinsi Sumut Tahun 2009 di Auditorium Kampus USU, Rabu (2/12).
Sementara itu, kebutuhan/ skill akan tenaga kerja di bidang TIK secara umum adalah :
|
No |
Kebutuhan/ Skill |
|
1 |
|
Hal ini menuntut perlunya adanya singkronisasi kurikulum antara pendidikan dengan dunia kerja . Salah satu fasilitas untuk menunjang kompetensi tersebut siswa perlu dikenalkan dengan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang berfungsi sebagai bahan maupun alat pembelajaran yang praktis dan dibutuhkan oleh perusahaan.
Ardelindo Aples sejauh ini telah ikut andil dalam kegiatan pendidikan formal tingkat sekolah menengah kejuruan teknik komputer dan jaringan sebagai salah satu team penguji (asessor) pada uji kompetensi teknologi komputer dan jaringan.


